Rabu, 10 Februari 2010

GRAVITY IN PROXIMITY

Mengapa dunia kita dan manusianya rusak? Beberapa analisa:
• Ahli Ekonomi : Itu disebabkan ketidak adilan moneter.
Solusi : Adakanlah pembagian kembali kekayaan, maka kami akan dapat memecahkan problem ini.

• Diplomat : Penyebab ketegangan dalam dunia ini adalah POLITIK. Jika hubungan dan persahabatan antar bangsa dapat dibangun, maka problema dunia akan teratasi.

• Pendidik : Penyebab ketegangan dunia adalah karena kurangnya PENGETAHUAN. Jika setiap manusia yang ada didunia adalah orang-orang yang terdidik, damai sejahtera akan timbul dibumi.

• Sosiolog: Lingkungan yang buruk itulah yang menyebabkan keributan dalam dunia ini. Kehidupan yang miskin, areal tanah yang gersang, itulah yang menyebabkan timbulnya kejahatan dan kekacauan.

Alkitab dengan jelas menyatakan penyebab semua kekacauan dalam kehidupan kita ini.

“Tetapi dosa-dosamu itulah yang menghambat semua yang baik itu sehingga kamu tidak menikmatinya.” Yeremia 2:25.

Penyebab kesusahan hidup itu adalah DOSA.

Ilustrasi : Pemburu Anjing Hutan di Eskimo.
Setan membuat umpan dosa yang memikat tetapi mematikan.

“Tidak ada yang lebih berbahaya dari pada tipu daya dosa. Itu adalah dewa dunia ini yang menyesatkan dan membawa kepada kebinasaan, Setan menutupi pencobaan-pencobaannya dengan sesuatu yang berbentuk baik, ia mencampur sedikit kebaikan dengan kebodohan dan hiburan dan menipu jiwa-jiwa yang terlibat di dalamnya. Setan menunggu untuk melihat umpannya dimakan dan untuk melihat jiwa-jiwa berjalan tepat pada jalan yang telah disediakannya.” II T 142.143.

“Dosa itu memikat dan nikmat oleh sebab dosa itu tampak sangat menarik dan menawan hati. Di dalam Firdaus, ketika Hawa melihat kepada apa yang Allah telah peringatkan kepadanya supaya jangan dimakan, ia melihat hal itu:
• “Baik untuk dimakan”
• “Sedap kelihatannya”
• “menarik hati karena memberi pengertian”

Hawa benar-benar tertipu. Saat dia melangkahi garis yang memisahkan yang benar dan yang salah, dan oleh langkah yang membawa maut itu, ia membuka pintu gerbang banjir dosa.

“Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” I Yohanes 3:4.

Setan meramu dosa itu sehingga kelihatannya nikmat. Namun,
DOSA ITU NIKMAT TETAPI MENDATANGKAN LAKNAT

Langkah-langkah terjadinya dosa:
1. Mula-mula godaan disodorkan. Digoda itu bukanlah dosa.
2. Kemudian kita mengenal godaan itu, dan memiliki kesempatan untuk mempertimbangkannya. Sampai disinipun itu belum dosa, sebab Yesus ketika di padang belantara menyadari bahwa diri-Nya sedang digoda.
3. Langkah ketiga dalam penggodaan hanya datang kepada mereka yang tidak bergantung pada kuasa Allah pada saat digoda itu. Jadi mereka memikir-mikirkannya dalam benak mereka. Ada suatu bisikan dari dalam mengatakan “Wah, kelihatannya menyenangkan!” Seakan-akan sesuatu yang muncul secara otomatis dari dalam karena tombolnya ditekan, lalu muncul menyodok orang tersebut.
Tetapi sebaliknya bagi seseorang yang bergantung pada Kristus, sambutan dari lubuk hati itu, yang merasa bahwa godaan tersebut menyenangkan dan menarik, tidaklah terjadi.


GRAVITY IN PROXIMITY:
Semakin kita mendekati godaan itu, maka akan semakin kuat daya tariknya.

Jauhkan diri dari godaan, karena Yesus sendiripun berdoa “Jangan membawa kami kedalam pencobaan.” Karena pencobaan yang tidak dapat dikalahkan akan berbuah dosa.

“Upah dosa ialah maut” Roma 6:23.
Dosa itu ujung-ujungnya adalah maut.

Tempo edisi16-22 Juni 2008, tentang misteri kematian Munir, menuliskan:
“Bagaimanapun pintarnya,” kata sang penyidik, “seorang pelaku kejahatan (DOSA) pasti meninggalkan jejak tanpa sengaja.”

Ilustarsi : Kepas tangkap merokok di warung.

“Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya.” Amsal 5:22.

Ingat, ada orang yang tampaknya mengira bahwa mereka dapat melanggar hukum Allah dan manusia tidak menanggung akibat-akibatnya. Dosa itu menipu. Tidak ada yang baik dari padanya, walaupun ada orang yang tampaknya luput dari akibat-akibatnya untuk sementara waktu.

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” “Tetapi ingatlah bahwa segala perbuatanmu harus kaupertanggungjawabkan kepada Allah.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut