Rabu, 10 Februari 2010

ALLAH JUGA MENDERITA

"ALLAH YANG JUGA MENDERITA"

Pada beberapa kuil Shinto di Jepang, ada beberapa upacara menarik yang dilakukan pada saat saat tertentu. Pada halaman luar setiap kuil tersebut, tumbuhlah banyak pohon pohon yg dengan sengaja telah ditanam dan diatur sedemikian rupa, mengelilingi kuil kuil tersebut. Pada hari dilaksanakannya upacara, anda akan menemukan ratusan gulungan kertas kecil yg tergantung pada dahan dahan pohon di luar kuil. Apa yg terjadi? Orang orang yg datang berbakti, pergi kepada imam Shinto dan mengambil atau mencabut undian. Setelah melihat "undian" yg dipilih oleh orang yg berbakti, sang imam Shinto kemudian memberikan satu gulungan kertas tertutup yang di dalamnya berisi ramalan "nasib" yg akan diperoleh oleh orang tersebut. Jika orang yg memperoleh gulungan kertas tersebut suka dengan ramalan "nasib" yg diperolehnya, ia segera akan pulang dan menunggu keberuntungannya terjadi. Namun, jika gulungan kertas tersebut tidak memberikan ramalan "nasib" yang baik, orang tersebut akan menggulung kembali kertas nasibnya dan kemudian menggantungkannya pada pohon diluar kuil. Hal ini menandakan satu permohonan
kepada para dewa untuk mengambil kembali "nasib" buruk tersebut dan memberikannya kepada orang lain. Satu syarat unik untuk mendapatkan permohonan tersebut adalah: orang itu harus bisa menggantungkan gulungan kertas ke dahan pohon dengan hanya menggunakan satu tangannya.

Di dalam kehidupan kita sehari hari, nasib buruk, atau penderitaan, seringkali mengikuti langkah yg kita lalui, hingga kepada kematian sekalipun. Tidak mungkin bagi kita untuk menghindari setiap penderitaan kita sendiri dan memberikan/mentransfer penderitaan tersebut kepada orang lain. Intinya, penderitaan tidak dapat dielakkan oleh setiap umat manusia.

Pada saat kita mengalami masalah atau penderitaan, pertanyaan pertama yg kita tanyakan adalah: WHY? WHY ME? Kenapa? Kenapa Saya? Saya tidak pantas mendapatkan masalah atau penderitaan ini! Dan pertanyaan berikutnya yg sering muncul, adalah, Dimanakah engkau ya Tuhan saat saya menderita?

Sepasang pengantin baru, yang baru saja menyelesaikan pendidikan mereka di Andrews University, sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah, mempersiapkan diri mereka untuk pekerjaan Tuhan. Pada satu tikungan di jalanan yg licin, mobil mereka oleng dan hampir saja masuk jurang. Setelah berhasil mengendalikan mobilnya, sang suami muda kemudian menghentikan mobil mereka di pinggir jalan dan mengajak istrinya yg tercinta untuk berdoa mengucapkan syukur atas keselamatan yg telah Allah berikan dan memohonkan penjagaan yg sama akan menemani mereka sepanjang perjalanan tersebut. Setelah berdoa, tiba tiba datanglah mobil lainnya, yang juga oleng oleh karena jalan yg licin, menabrak mobil pasangan tersebut dan menewaskan dengan seketika sang istri.

Dimanakah Tuhan dalam kejadian tersebut? Raja Daud, dalam kekecewaan yang mendalam, menangis dan berkata di dalam Mazmur 22:2: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku? Salah satu tokoh Alkitab yg mungkin berhak untuk mempertanyakan keberadaan adalah seorang muda, yang berusia 17 Tahun yang bernama Yusuf. Di masa mudanya, ia telah menyadari bahwa Tuhah memiliki rencana yang khusus bagi dirinya untuk menjadi pemimpin bagi keluarganya, melalui dua mimpi yg Tuhan berikan kepadanya. Namun, dimanakah Tuhan saat ia dijual sebagai budak oleh saudara saudaranya sendiri? Dimanakah Tuhan saat ia harus dipenjarakan selama kurang lebih 13 tahun lamanya? Dimanakah Tuhan saat ia harus menderita di penjara bukan karena melakukan kejahatan, tetapi justru karena melakukan kebenaran, yaitu menolak untuk rayuan dan ajakan berzinah dari istri majikannya sendiri? Dimanakah Tuhan saat ia harus menderita lebih lama dipenjara karena teman sepenjaranya, yang ia telah tolong, yang berjanji untuk membantunya keluar dari penjara, justru hampir melupakannya?

Yusuf, di dalam penderitaan penderitaan, di dalam kejamnya kehidupan seperti yg dialaminya dan tertulis di dalam Kejadian 37 39, tidak sekalipun mengeluh dan bersungut. Mengapa Yusuf tidak bersungut? Ia tidak bersungut karena ia yakin kepada Kuasa dan Kekuatan Tuhan. Persungutan adalah satu pola pemikiran, yang menyatakan bahwa di dalam kesulitan, kesusahan, atau penderitaan, Allah tidak memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Dan persungutan menurut Ibrani 3:7 13 dapat menuntun kepada pengerasan hati, penolakan akan Tuhan, dan hilangnya posisi orang tersebut di dalam kerajaan Allah. Yusuf tidak bersungut dalam penderitaannya karena ia yakin Allah ada bersama sama dengan dia di dalam penderitaannya. Kita harus menyadari bahwa kadang kadang Allah tidak menghindarkan kita dari persoalan persoalan atau penderitaan hidup yang kita alami. Hal itu terjadi bukan karena Allah ingin menghindar dan takut untuk terlibat dengan persoalan atau penderitaan kita, tetapi justru karena Allah sebenarnya telah MASUK bersama sama dengan kita ke dalam penderitaan tersebut. Walaupun Allah bisa, namun Ia tidak menghindarkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari dapur api yang menyala nyala yg dipersiapkan raja Nebuchadnezzar di dalam kitab Daniel fatsal 3. Allah masuk bersama sama ketiga anak muda tersebut ke dalam dapur api. Walaupun Allah bisa, namun Ia tidak menghindarkan Daniel dari lubang singa. Allah masuk bersama sama Daniel ke dalam lubang singa. Allah kadang kadang dapat melepaskan kita dari persoalan, namun kadang kadang Ia juga masuk bersama sama kita ke dalam penderitaan yg kita alami.

Di dalam satu bukunya yg berjudul, Night, Elie Wiesel menceritakan pengalamannya sebagai orang Yahudi yg dimasukkan kedalam kamp konsentrasi di Auschwitz yang mengerikan. Pada satu ketika, seorang anak kecil, bersama dua orang dewasa lainnya dituduh melakukan tindakkan sabotase oleh serdadu Jerman di kamp tersebut. Hukuman atas pelanggaran yg dituduhkan kepada mereka hanya satu: Hukuman Mati dengan cara digantung. Hal ini sangat mengerikan mengingat anak tersebut, yg masih sangat muda, akan digantung di depan ribuan orang yg menontonnya. Semua mata memandang anak tersebut, saat algojo menaikkannya keatas kursi, dan dilehernya dipasangkan tali gantungan. Dua orang dewasa disamping anak tersebut berteriak teriak: Merdeka! Merdeka! Sementara anak kecil itu hanya berdiam diri. "Dimanakah Tuhan, Dimanakah Dia saat ini? Tanya seseorang yg berdiri dibelakang Elie Wiesel. Wiesel dan orang Yahudi yg lainnya hanya berdiam, apalagi saat ketiga orang yg dihukum gantung tersebut diperintahkan untuk menegakkan kepala mereka dan siap untuk digantung. Kemudian komandan tentara Jerman memerintahkan kursi kursi yg sedang diinjak ketiga orang tersebut ditendang, yg mengakibatkan ketiga orang tersebut segera tergantung. Setelah menggeliat geliat sedikit, kedua orang dewasa di sebelah anak kecil tewas dengan lidah yg menjulur keluar, bengkak, dan membiru. Namun, tali gantungan ketiga, yg menggantung anak tersebut masih terus bergerak, anak yg kecil tersebut, yg masih ringan, ternyata masih dapat bertahan hidup lebih lama. Ia tentunya sedang bergumul menjelang ajalnya. Selama 30 menit Elie Wiesel memperhatikan pergumulan maut anak tersebut, memperhatikan lidahnya yg terjulur keluar namun masih berwarna merah, dengan tatapan mata yg masih menandakan tanda tanda kehidupan. Saat itu, suara orang yg berdiri di belakang Wiesel kembali terdengar: Dimana Tuhan saat ini, Dimana Dia? Saat itulah Wiesel berkata dengan perlahan: "Dimana Tuhan? Tuhan ada disini Dia tergantung di Tiang Gantungan tersebut bersama sama dengan anak yg malang itu!"

Allah tidak melepaskan, menjauhkan diriNya dari penderitaan manusia. Ia bahkan mengirimkan AnakNya yang Tunggal, Yesus Kristus, untuk masuk kedalam dunia ini, menderita bersama sama manusia dan lebih dari Yesus pun mati secara menyakitkan didalam ketidakadilan. Ia dihukum mati oleh pemimpin Yahudi bukan karena adanya kesalahan yang diperbuatNya. Ia tidak mengeluh, bersungut, apalagi membalas dendam atas ketidak adilan yg harus dialaminya. Rasul Petrus, yang melihat penderitaan Yesus berkata di dalam 1 Petrus 2:22 23: Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya. Namun ketika ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia (Allah Bapa), yang menghakimi dengan adil.

Baik Yusuf, Daniel, Sadrach, Mesakh, Abednego, dan terlebih dari itu Yesus Kristus sendiri mengalami penderitaan, justru karena mereka melakukan dan menghidupkan kebenaran. Tidak heran Rasul Petrus didalam 1 Petrus 2:21 berkata: Sebab itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya." Pernyataan Petrus itu merupakan satu hal yang unik, karena gantinya saat mengalami penderitaan kita berkata: "Why Me? Kita sekarang dianjurkan untuk berkata: Why NOT Me? Kenapa saya TIDAK IKUT menderita? Atau: Penderitaan Siapa Takut?

Adakah gunanya penderitaan itu? Pertama: Kita tidak akan dapat merasakan atau sungguh sungguh bersimpati dengan mereka yg menderita, jika kita tidak pernah mengalami hal yg sama. Kita yang pernah kehilangan kekasih atau keluarga yg kita kasihi, akan dapat merasakan dan tahu bagaimana carannya menghibur orang lain yang berduka. Dan kita yang pernah diperlakukan tidak adil, akan mengetahui bagaimana caranya bersimpati dengan orang lain yg mengalami ketidak adilan. Kedua: Didalam penderitaan kita, disaat kita menyerah dan melihat ketidak mampuan diri kita, disitulah kita dapat melihat Allah dengan sangat jelasnya. Allah yang ada bersama sama dengan kita. Keluhan Raja Daud di Mazmur 22:2 tadi tidak berhenti diayat dimana raja Daud mempertanyakan keberadaan Tuhan disaat ia menderita. Kita harus melihat fatsal selanjutnya, fatsal yg sangat terkenal dari Kitab Mazmur, fatsal 23. Fatsal 23 berbicara tentang Tuhan sebagai Gembala Yang Baik, yang menuntun dan selalu berjalan bersama sama dengan dombanya, di jalan yg berbahaya sekalipun. Allah tidak menjanjikan jalan yg selalu mulus untuk dilalui umat umatNya. Namun Allah menjanjikan, di jalan yg bagaimanapun yg dilalui umatNya Ia akan berjalan bersama. Di dalam kesusahan, gantinya melihat dan berusaha dengan kekuatan diri sendiri, ketahuilah, bahwa Allah ada berjalan bersama sama dengan kita. Ketiga: Roma 5:3 5 menyatakan bahwa kita justru harus senang, bermegah didalam penderitaan/kesengsaraan kita. Kenapa? Karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan; ketekunan menimbulkan tahan uji; dan tahan uji menimbulkan pengharapan akan curahan Kasih Karunia Allah melalui Roh Kudus. Gantinya melihat penderitaan/kesengsaraan sebagai suatu kemalangan, kita dapat melihatnya sebagai suatu kesempatan. Kita dapat memilih untuk melihat kesengsaraan yg kita alami melalui perspektif yg berbeda.

Helen Keller pernah berkata: "Saat salah satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka. Hanya seringkali kita terpaku begitu lama pada pintu yang tertutup sehingga tak melihat yang telah terbuka untuk kita."

Humberto Noble Alexander, 28 tahun, adalah seorang pendeta yg sedang berjalan pulang kerumah dari acara KKR orang Muda ketika polisi tiba tiba menahannya. Pemerintah Kuba menuduhnya sebagai mata mata CIA yg berusaha untuk membunuh Fidel Castro di tahun 1962. Alasan sesungguhnya ia ditawan adalah keyakinan dan kepercayaannya kepada Yesus Kristus. Ia mengalami ketidakadilan yang sangat hebat saat ia dikirim ke Pulau Pines, dan dimasukkan ke penjara yg dikenal dengan istilah "Siberia of Cuba," salah satu penjara yg kondisi dan keadaannya sangat tidak mengenal kemanusiaan.
Ia dianiaya dan dipaksa untuk melepaskan keyakinannya dan menghujat Yesus Kristus. Namun ia tetap teguh walaupun ia harus dipukul, dipaksa bekerja keras, kadang kadang tidak diijinkan untuk tidur, sering diberikan makanan yg sudah berulat, dan hal hal mengerikan lainnya yg melewati batas ketahanan manusia normal lainnya selama 22 tahun lamanya. Istrinya yg cantik menceraikannya dan kemudian menikah kembali dengan perwira komunis Kuba. Selama 22 tahun tersebut, Noble Alexander tidak menyerah kepada kesengsaraannya. Di dalam kesengsaraan tersebut ia justru melihat kesempatan, kesempatan untuk menginjili orang orang di penjara itu. Ia tetap memiliki kebahagiaan di dalam penjara yg mengerikan tersebut saat ia melihat tawanan tawanan lainnya, yang menerima Kristus, memperoleh "kebebasan" di dalam Kristus. Empat kali dalam satu hari, Noble Alexander memimpin kebaktian di dalam penjara, dan dalam jangka waktu 2 tahun pertama saja, perkumpulan tersebut telah memiliki 95 anggota jemaat.

Roma 5:3 5 berkata: kesengsaraan menimbulkan ketekunan; ketekunan menimbulkan tahan uji; dan tahan uji menimbulkan pengharapan akan curahan Kasih Karunia Allah melalui Roh Kudus. Seorang pria menemukan kepompong seekor kupu kupu. Pergerakkan dari dalam kepompong untuk melewati lubang kecil terlihat oleh sang pria. Sang pria itu kemudian duduk dan mengamati dalam beberapa jam, ketika kupu kupu itu berjuang dengan memaksakan dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya sang pria tersebut memutuskan untuk membantu kupu kupu tersebut. Ia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, kupu kupu tersebut mempunyai tubuh yang menggembung dengan sayap sayap yg mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya lebih lanjut dan berharap agar suatu waktu sayap kupu kupu tersebut dapat mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya dan segera terbang dengan indahnya. Sayangnya, hal tersebut tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong dengan lubang kecil yg menghambat itulah perjuangan dan cara yg dibutuhkan oleh seekor kupu kupu. Perjalanan atau usaha melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu kupu itu mengalir ke dalam sayap sayapnya, sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita, menjadikan kita "tidak dapat terbang." Marilah kita terus memuji dan bersyukur kepada Tuhan, karena
ketika:
1. Kita memohon Kekuatan...Tuhan justru memberikan kesulitan kesulitan untuk membuat kita kuat
2. Kita memohonkan Kebijakan...Tuhan justru memberikan persoalan persoalan untuk diselesaikan.
3. Kita memohon Kemakmuran...Tuhan justru memberikan Otak dan Tenaga untuk bekerja.
4. Kita memohonkan Keteguhan hati...Tuhan justru memberikan Bahaya untuk diatasi
5. Kita memohonkan Cinta .... Tuhan justru memberikan orang orang bermasalah untuk ditolong.
6. Kita memohonkan Kemurahan/Kebaikan hati....Tuhan justru memberikan kesempatan kesempatan untuk berbuat baik.

Kita mungkin tidak selamanya dapat memperoleh yg kita inginkan. Akan tetapi, dengan Tuhan, kita akan mendapatkan segala yang kita butuhkan. Dan kebutuhan kita yang terbesar adalah Yesus Kristus yang berjalan bersama sama dengan kita, di setiap langkah kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut