Selasa, 03 April 2012

LOYALITAS IMAN YANG TAK DAPAT DIPERJUAL BELIKAN


LOYALITAS IMAN YANG TAK DAPAT DI PERJUAL BELIKAN
Mazmur 137:1 “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.”

Pertanyaan?? Siapakah mereka [“kita”] itu? Mengapa mereka menjadi menangis [sedih] bila mengingat Sion?

Para Biduan Bait Suci
1 Tawarikh 6:31-47
“Inilah orang-orang yang ditugaskan oleh Daud memimpin nyanyian di rumah TUHAN sejak tabut itu mendapat tempat perhentian. Di hadapan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan, mereka melayani sebagai penyanyi sampai Salomo mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem. Mereka melakukan tugas jabatannya sesuai dengan peraturannya” (ay. 31-32)
1 Tawarikh 25:1-31
“Selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjuk anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap. ” (ay. 1)
Suatu pukauan yang memikat insan tatkala dipadu juga dengan harmonisasi paduan suara raksasa yang terdiri atas 288 orang penyanyi. (1 Tawarikh 25:7)

Pemicu tragedy:
Pada kitab Yesaya 38-39 kita akan dapati peristiwa supra alami yang mengakibatkan adanya mukjizat yang terjadi dalam hidup Raja Hizkia (729-686 SM).
(Geisler, Norman, A Populer Survey of The Old Testament, p. 134).
Raja Hizkia jatuh sakit yang berdasarkan diagnosa pada zaman itu, dan menurut gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit yang diderita, maka raja orang Yehuda itu menuju kematian                                 (Yesaya 38:1).

Ayat 3 “Ah Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati....”

Ayat 5 “Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu.  Sesungguhnya Aku akan memperpanjang umurmu”

Ayat 8 “Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak yang telah dijalaninya." Maka pada penunjuk matahari itu matahari pun mundurlah ke belakang sepuluh tapak dari jarak yang telah dijalaninya.

Muzizat bagi sang raja:
Yesaya 38:5
         Bukan hanya disembuhkan dari penyakit yang hampir merenggut nyawanya,
         tetapi Tuhan juga memberikan umur yang lebih panjang (bonus 15 tahun) bagi raja yang dipilih-Nya itu.
         Para profesor astronomi pada hari itu dibuatnya tercengang, melihat suatu peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam catatan sejarah dunia.  Pada waktu siang itu mereka sedang mengamati jam matahari, dilihatnya bayangan matahari mundur sejauh sepuluh tapak.
         Peristiwa menggemparkan ini sampailah ke telinga Raja Babilon, maka dia memerintahkan untuk mengadakan penyelidikan apakah penyebab semua peristiwa itu.  Diperoleh sebuah informasi yang sangat mengejutkan, bahwa mundurnya matahari itu adalah karena permintaan raja Hizkia.  
         Babilon adalah sebuah kerajaan yang menganut Politeisme, mereka mempunyai banyak dewa.  Pada zaman dahulu biasanya dewa tertingginya adalah dewa Matahari.  Sudah tentu laporan yang diberikan kepada raja mengenai penyebab mundurnya bayangan matahari adalah menggemparkan.  Dewa yang bagaimanakah yang dimiliki Israel sehingga dapat memerintah Dewa Matahari untuk mundur sepuluh langkah.  Dewanya Israel pastilah Dewa yang mahaperkasa.
         Rasa ingin tahu yang besar itulah menyebabkan Merodakh Baladan, mengirim utusan untuk melihat kebesaran “Dewa” Israel. 
         Raja Merodakh Baladan, penguasa jazirah Sinear itu, yang mendapat informasi yang mencengangkan itu segera:
          Mengutus duta kerajaan pergi ke tanah Yehuda untuk memastikan kebenaran kabar yang luar biasa.
          Sekaligus menyampaikan salam “selamat” atas kesembuhan yang diperoleh Raja Hizkia.
         Kedatangan duta kemaharajaan Babilonia itu disambut baik oleh Hizkia, dengan penghormatan yang baik ditunjukkannya bagi mereka.
         Jamuan makan yang mewah dan hidangan yang lezat tentu disuguh.
         Hasil kekayaan dan industri kerajinan rakyatnya diperlihatkan.
         Perkakas dan perabot istana dipamerkan.
         Dan lebih daripada itu, Hizkia membawa tamunya untuk menyaksikan keindahan perabot-perabot rumah Allah (bejana-bejana Bait Suci yang memukau dengan segala salutan emasnya, dan keindahan warna-warni tirai-tirai bait kudus), semuanya disaksikan tamu kerajaan itu dengan geleng-geleng kepala pertanda kagum luar biasa.

Yesaya 39:2 Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan oleh Hizkia kepada mereka di istana dan di seluruh daerah kekuasaannya.

         Tapi sayang kesempatan itu disalahgunakan oleh Hizkia.  Gantinya dia membesarkan nama Tuhan yang telah menyembuhkannya malahan memamerkan kekayaannya.  Tanpa disadari peristiwa kecil ini akan membuahkan malapetaka yang dahsyat di kemudian hari.
         “Tetapi kecongkakan dan sifat ingin di puji menguasai hati Hizkia, dan di dalam meninggikan diri sendiri ia membuka perbendaharaan kekayaan yang diberikan Allah kepada umat-Nya di depan mata orang yang serakah…….  Ia melakukan hal ini bukan untuk memuliakan Allah, tetapi semata-mata untuk meninggikan dirinya sendiri di mata pangeran-pangeran asing.  Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa orang-orang ini adalah utusan-utusan dari suatu bangsa yang berkuasa yang tidak takut dan tidak mengasihi Allah di dalam hatinya,…..”
         “Betapa berbahayanya akibat yang akan terjadi kemudian!  Kepada nabi Yesaya dinyatakan bahwa utusan-utusan yang kembali itu membawa laporan mengenai kekayaan yang mereka telah lihat, sehingga Raja Babel dan penasehatnya hendak merencanakan untuk menambah kekayaan negara mereka dengan kekayaan yang terdapat di Yerusalem.” (Alfa dan Omega, jilid 3, hal. 283.)

Semuanya disaksikan tamu (duta Babilonia) kerajaan itu dengan geleng-geleng kepala pertanda kagum luar biasa.
Paling berkesan dalam bagi utusan Babel, dan setelah mereka pulang serta melaporkannya kepada raja mereka, adalah pukauan keindahan perabot-perabot Bait Suci dan pukauan orkestra Bait suci yang termashur itu.
Itulah salah satu faktor penentu yang menyebabkan raja dari sebelah Timur itu menyerang kerajaan Yehuda dan menawan penduduknya.                                                         (Verkuyl . J.,Christian Ethics, p. 201).

Sesuai  dengan  nubuatan nabi besar Yesaya, “Sesungguhnya, suatu masa akan datang bahwa segala yang ada di dalam istanamu dan yang disimpan ... akan diangkut ke Babilonia. Tidak akan ada barang yang akan ditinggalkan” (Yesaya 39:6-7).

Nubuatan itu pun tergenapi sekitar tahun 605 BC, pada waktu Raja Yoyakim memerintah atas Yehuda.
Lalu “... perkakas rumah Tuhan dibawa Nebukadnezar ke Babel dan ditempatkan di istananya di Babel” (2 Tawarikh 36:7), dan termasuk juga dengan orkestra dan para penyanyi bait suci (Daniel 1:2).
Para pemain orkestra dan para penyanyi Bait Allah yang diangkut sebagai tawanan di tanah yang asing bagi mereka.
Diperkuat dengan fakta, mereka memegang dan mempergunakan alat musik kecapi (Mazmur 137:2) sebagai alat musik khas untuk orkestra bait suci di kalangan orang Israel.                                                                            
  (Wigh, Fred H., Manners and Custom of the Bible Lands, p.278)  

Mazmur 137:2, 3
“Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!"
Mazmur 137:4
“Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing?”
“Bagaimana mungkin kita menyanyikan nyanyian kudus di tempat najis, negeri orang-orang kafir?” (right man in the wrong place).
Mazmur 137:5, 6
Seperti bersumpah, mereka dengan berani berteriak:
Biarlah menjadi kering tangan kananku. Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku melupakan engkau hai Yerusalem, puncak sukacitaku...”

Ahli Perjanjian Lama, Kaiser, menyatakan:

Catatan arkeologi....
“Tradisi pujian di kuil-kuil berhala Babilonia yang berakar dari para pelantun-pelantun Yahudi yang ditawan, tetap dipertahankan para penguasa Babilonia secara turun-temurun.               (Kaiser, Jr., Walking Through the Old Testament, 137)
Pakar purbakala , F.F. Bruce, berdasarkan penemuannya turut menguatkan:
“Warisan bermazmur di kuil-kuil berhala adalah hal yang unik namun sangat menarik bagi bangsa Media.  Tidak heran raja-raja Persia pun, sekutu bangsa Media, mengadopsi pelayanan itu pada penyembahan mereka.                                    (Bruce, F.F., Psalms in the Nearest Land, p. 169).

Bagaimana kisah selanjutnya?
Ezra 2:1
“Inilah orang-orang propinsi Yehuda yang berangkat pulang dari pembuangan, yakni para tawanan, yang dahulu diangkut ke Babel oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang kembali ke Yerusalem dan ke Yehuda, masing-masing ke kotanya.”
Ezra 2:41
“Inilah para penyanyi...                             seratus dua puluh delapan orang.
Jumlah penyanyi                 : 288 orang
Jumlah yang pulang                       : 128 orang
Seratus enam puluh (160) orang,                 
Ke mana ???

Ahli purbakala dan sejarah Alkitab, W. Fosh melaporkan:
“Penemuan di Nippur, wilayah orang Yehuda selama penawanan itu, telah  mengungkapkan arsip-arsip para penguasa bank yang besar. Dalam beberapa tablet berkode secara rahasia H.R. 2797....                                                       (Fosh, W., Banking of Aramic World, p. 389)           

Dalam beberapa tablet berkode secara rahasia H.R. 2797, ditemukan sejenis surat-surat dan dokumen “Murasshu Sons.” Ribuan  lempengan-lempengan yang berisi lebih dari seratus nama orang Yehuda, yang dinyatakan telah menjadi kaya dan merupakan kelompok yang berpengaruh                di Persia.... Banyak dari mereka musikus.                                                              (Fosh, W., Banking of Aramic World, p. 392)           

Tantangan:
Maka hilanglah kerinduan itu, dan tidak mau pulang kerumah-Nya.  Sumpah setia bagi pelayanan bait Allah “Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing?” (Mazmur 137:4), yang mereka ucapkan dulu, kini menjadi hambar.

Rupanya tidak semua orang yang menyebut Tuhan itu sebagai Tuhannya adalah yang benar-benar rindu bersama Dia di negeri-Nya yang permai.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut